Pengumpan RSS

Arsip Tag: lamaran

Iseng Setelah Lamaran :)

Posted on

Biasanya sih setelah acara lamaran, keluarga besar langsung ngomongin tanggal pernikahan. Tapi di acaraku sih nggak. Keluarga Masku menyerahkan urusan pemilihan tanggal ke ortuku tapi ortuku belum bisa ngasih tanggal, katanya menyusul aja.

Ketika keluarga Masku udah pulang, aku iseng nanya apakah ortuku belum bisa ngasih tanggal itu karena belum ngitung-ngitung? (Di etnis tertentu biasanya suka ada hitungan hari baik bukan?) Ternyataa… jawaban Bapakku adalah “Semua hari itu adalah hari baik. Hari yang paling baik itu adalah hari lahir, libur, saudara-saudara bisa ngumpul, dan ada dananya.” “Lah kalau memang begitu alasannya, kenapa ga bisa langsung tentuin tanggal?” Begitu tanyaku lagi. Jawab Bapakku, “Soalnya kalender tahun depan belum keluar. Posisinya sih sudah tahu, yang belum tahu adalah di posisi itu jatuhnya tanggal berapa.” Hayaaahhh….. ternyata sesederhana itu alasannya :) Kirain kenapa hehehe….

Okelah kalau begitu, nurut waelah aku mah. Yang penting lancar hehehe…..

Lamaran

Posted on

Acara lamaranku berlangsung awal bulan September kemarin. Syukurlah acaranya berjalan dengan lancar meskipun hanya 2 jam saja hehe…

Oya, di acara tersebut, ortuku hanya mengundang saudara dan tetangga yang dekat saja, tidak banyak, karena waktu mulainya acara tidak bisa diprediksi tepat waktu. Pertimbangannya yaitu perjalanan yang ditempuh keluarga Masku jauh, dalam suasana Lebaran pula, jadi situasi di jalan tidak bisa diprediksi, takutnya malah kena macet. Tidak apa-apa yang penting kan inti acaranya tercapai.

Sebelumnya, Masku bilang karena keluarganya akan menempuh perjalanan PP, kemungkinan acaranya dimulai pagi sekitar jam 10 dilanjutkan dengan makan siang. Tidak masalah buat kami. Dan ternyataaaa….. datangnya tepat waktu euy :D

Seperti lazimnya acara lamaran, ada sesepuh dari keluarga Masku yang menyampaikan maksud kedatangannya, dan disambut oleh Bapakku. Kemudian, acara dilanjutkan dengan petuah-petuah dari ortu untuk kami.

Bapakku berpesan katanya cincin itu hanya simbol tapi yang penting adalah hati yang terikat. Kami sudah sama-sama dewasa, sudah waktunya untuk berumah tangga. Untuk itu diperlukan persiapan yang matang. Persiapan ini yang terpenting adalah bukan materi melainkan persiapan mental, kesanggupan untuk menerima kekurangan masing-masing.

Jika diibaratkan pohon, suatu saat kami akan menjadi pohon yang akan berbuah. Jika menginginkan buahnya baik, maka kami harus menjadi pohon yang baik pula, sebab buah yang baik hanya bisa berasal dari pohon yang baik. Begitupun ketika posisi kami menjadi buah. Jadilah buah yang baik, sebab hanya buah yang baik yang akan bisa menunjukkan pohon itu baik atau tidak.

Amiiinn!!! Wuih, maknanya dalem banget. Semoga kami bisa menjadi buah sekaligus pohon yang baik. Amin.

Kemudian acara dilanjutkan dengan tukar cincin, dan makan siang tentunya hehe….

Oya, dalam acara tukar cincin ini, bukan kami yang saling memakaikan cincin, tapi Ibu Masku memakaikan cincin di jari manis kiriku, dan Ibuku memasangkan cincin di jari manis kiri Masku.

Syukurlah acaranya berlangsung dengan lancar meskipun hanya 2 jam. Kalau ada kurang-kurang mah mohon dimaafkan saja yaa :)

 

Cincin

Posted on

Satu lagi niy persiapan yang tidak kalah pentingnya yaitu Cincin. Di tulisan sebelumnya ketinggalan belum diceritain, soalnya dibeliin Masku hehehe….

Awalnya kami sama-sama pengen cincin emas putih dan “baru” ketika dipakai pada acara pernikahan. Bagi kami tidak masalah apabila saat lamaran tidak ada cincin, yang penting pas nikahan ada dan “baru”. Tapi ternyata, beda lagi pendapat keluarga kami. Kata mereka “Masa acara lamaran ga ada cincinnya? Terus apa dong simbolnya kalau kalian sudah tunangan?” Terus ada juga masukanĀ  “Sebaiknya cincin nikahan itu dari emas 24 karat, terus disimpen, jangan dipakai. Untuk dipakai sehari-hari, beli lagi aja cincin sesuai dengan model yang kalian mau.” Akhirnya kami sepakat untuk membeli cincin emas 24 karat untuk acara lamaran, kemudian disimpen dan dipakai lagi di acara nikahan. Untuk cincin yang akan dipakai sehari-hari sih lihat saja nanti, tergantung situasi.

Jauh-jauh hari sebelum acara lamaran, Masku udah ngajakin beli cincin, mumpung harga emas masih terjangkau. Akhirnya pergilah kami ke Toko Emas Teguh di Pasar Tangerang, langganan Ibunya dianter sama Ibu, Bapak, dan Mbak, rombongan hihihi…. jadi terharu deh diperhatiin segitu rupa. Makasih banyak yah semuanya :)

Di sana bingung juga euy mau pilih yang mana. Untuk cincin yang 22 karat (kalau ga salah kadar emasnya 70%) banyak model yang lucu, sedangkan cincin 24 karat (kadar emas 98% kalau ga salah) modelnya terbatas, tidak banyak pilihan. Berhubung maunya emang cincin yang 24 karat, maka kami pun sepakat memilih cincin emas 24 karat model polos dengan pinggiran melengkung. Mereka sih bilangnya wedding ring polos.

Jari manis kami pun diukur. Ukuran jariku 13, sedangkan ukuran jari Masku 21, gede juga ya? hehehe…. Menurut informasi dari yang punya toko, katanya untuk cincin wanita biasanya 4 gram, sedangkan cincin pria biasanya 6 gram.

Pesan cincin pernikahan di Toko Emas Teguh jadinya 2 minggu. Ongkos buatnya kalau tidak salah Rp. 150.000 per cincin, gratis grafir nama. Grafir namanya sendiri dilakukan setelah cincinnya jadi dan bisa ditunggui.

Tiga minggu kemudian, cincin kami diambil sama si Mas. Grafirnya juga terserah dia mau pilih font kayak gimana. Ternyataa… pilihannya bagus juga euy. I like it :D Thank you yaa… :D

Cincin tersebut kami pakai pas acara lamaran. Syukurlah ga kelupaan dibawa ya Mas? Hihihi…… *piss ahh* Sekarang malah lebih bersyukur lagi soalnya harga emas ternyata sudah melonjak gila-gilaan. Coba kalau belinya dientar-entar… wuihh…. mahaaallll booo… Makasih banyak ya say, keputusanmu memang tepat hehe….

 

Persiapan Lamaran

Posted on

Acara lamaranku sebenarnya sudah terlaksana awal bulan kemarin, tapi baru sempet kuceritakan. Maklum, bikin blognya juga barusan hehehe….

Dalam bayanganku sih acara lamarannya sederhana saja, hanya keluargaku dan keluarga Masku, belum melibatkan keluarga besar maksudnya. Terus acaranya sederhana saja, ga perlu mewah-mewah dan ga perlu ribet-ribet, maunya yang simpel-simpel saja :)

Ternyataa…. walaupun begitu tetep aja sibuk juga persiapannya, terutama ortuku hehe… (makasih banyak yah buat Bapak & Ibu, I love you full :)) Beberapa hari berturut-turut belanja mulai untuk keperluan konsumsi de-el-el. Aku sih ga sibuk, cuma nemenin mereka belanja H-sekian setelah aku libur, dan hunting kebaya buat dipake pas acara.

Oya, mengenai kebaya, aku dapatnya di Thamrin City Lantai Dasar, nama tokonya lupa hehe… pokoknya sih cari aja di Thamrin City, banyak kok yang jual kebaya baik itu kebaya encim, kebaya bordiran, maupun kebaya yang sudah dipayet. Kebaya yang aku pilih warnanya coklat muda, tiga perempat lengan, dan dibordir. Aku suka kebaya itu karena warnanya kalem, bordirannya bagus, kesannya tidak terlalu formal namun terlihat rapi, dan harganya terjangkau pula, sepertinya masih lebih murah dibandingkan jahit sendiri hehe…. Walaupun begitu tetep aja dikomentari si Mas, kurang cerah katanya, mestinya sih pilih yang warna krem katanya. Yee… dapatnya itu gimana donk? Hehehe…. Btw, waktu beli kebaya itu belum kepikiran loh bawahannya mau pakai apa. Tadinya sih sekalian mau beli rok dari kain jarik coklat, tapi nyari di situ sama di Keris juga tidak ada yang menarik hati. Akhirnya cuma beli kebaya deh di Thamrin City. Belakangan aku diingetin Ibuku kalau sebenarnya aku masih punya kain songket warna gold yang kubeli di Makasar, siipplah cocok ternyata dipadu-padankan dengan kebaya yang kubeli. Oya, kain songketnya dijahit dulu loh sama ibuku, biar aku pakainya ga ribet, kayak pakai rok aja. Makasih ya Bu :)

Untuk rias, aku rada males-malesan ke salon. Pengennya sih biasa aja tapi menuruti saran ibuku akhirnya aku ke salon juga. Salonnya juga pilih yang deket rumah aja. Lucunya Ibu yang mendandani aku ternyata anaknya dilamar juga pada waktu yang hampir bersamaan dengan aku. Hihihi…. jangan-jangan nanti nikahnya barengan lagi :D

Untuk urusan konsumsi, itu mah hak prerogatif Ibuku, terserah menunya mau apa aja, nurut waelah hehe….

Urusan tamu dan acara, itu juga hak prerogatif Bapakku, aku juga nurut aja terserah gimana diaturnya hehe…

Kayaknya sih udah, itu aja persiapannya. Yang punya banyak cerita kayaknya ortuku tuh hehehe….

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.